Sekolah perencanaan terutama swasta belakangan ini banyak menghadapi tekanan, baik dari dalam maupun luar. Beberapa jenis tekanan itu antara lain, mulai bermunculannya institusi pesaing, turunnya kepercayaan di mata masyarakat (karena faktor komparabilitas negeri-swasta), dan juga manajemen internal, seperti kesetimbangan kualitas mahasiswa dan beban yang diemban dari visi-misi jurusan. Besarnya tekanan ini menyebabkan eksistensinya mengalami proses dekadensi, sehingga butuh sebuah rumusan strategi cepat untuk bisa survive.Kaitannya dengan hal itu, Jurusan Teknik Planologi ITN Malang ini juga menggunakan 2 bentuk strategi untuk menghadapi fenomena ini, yang bersifat internal dan eksternal. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dari sisi kurikulum, dimana erat kaitannya dengan pelaksanaan methode pengajaran. Jurusan yang bervisi pengembangan spasial dengan mengedepankan aspek local culture ini, mencoba menindaklanjutinya dalam bentuk strategi pengembangan kurikulum pengajaran yang inovatif. Strategi ini diupayakan akan mampu memperkuat ciri dan citra jurusan, sekaligus memberikan nilai tambah dari sisi peluang dan kemampuan daya serap kerja. Diluar itu, strategi yang dikembangkan juga bisa digunakan untuk membuat sebuah pola pengajaran yang bisa lebih mudah untuk diterima mahasiswa.Studio Perencanaan Kota merupakan mata kuliah inti yang pasti ada pada setiap sekolah perencanaan. Penerapan strategi pada mata kuliah ini dirumuskan melalui pengalaman beberapa masa, dimana akhirnya disimpulkan perlunya untuk memberikan sebuah bentuk unik dalam pelaksanaan mata kuliah ini. Beberapa hal sebagai perwujudannya adalah berupa konsep kegiatan, kegiatan pra kota, workshop dan expose. Semua kegiatan itu mempunyai manfaat tersendiri, yang tentunya mempunyai korelasi erat dengan pengembangan visi jurusan.
Tulisan ini berusaha untuk menggambarkan mengenai karakter unik dari pelaksanaan mata kuliah studio kota di Jurusan Teknik Planologi. Dengan menggunakan alat deskriptif, yang ditunjang oleh upaya evaluatif, dengan menggunakan alat bantu methode distribusi frekuensi, maka akan bisa diketahui gambaran menyeluruh pelaksanaan kegiatan ini. Sharing pengalaman menjadi intinya, yang juga ditunjang dengan berbagai deskripsi teknis mengenai variasi pelaksanaan kegiatan ini. Pada akhir bagian juga akan disajikan mengenai berbagai upaya yang mungkin bisa dilakukan untuk menyempurnakan strategi pengajaran ini.
Tulisan ini disajikan dalam Seminar ASPI, ” Menuju Kurikulum Sekolah Perencanaan yang Berkarakter” UNISSULA Semarang 4-5 Agustus 2005.
-ebs-