Endratno Budi Santosa
T. Planologi ITN Malang
Perumahan Bumi Banjararum Asri F-13, Singosari, Kab. Malang
0341-457652
Bulan Mei di Kota Malang sekarang ini memunyai beberapa makna, pertama berkenaan dengan hari pendidikan nasional, yang kedua, berkenaan dengan hari kebangkitan nasional, yang ketiga, berkenaan dengan 10 tahun reformasi, yang keempat, pemaknaan Kota Malang sebagai Kota Pendidikan (Internasional), dan yang ke 5 adalah berkenaan dengan peristiwa kedatangan Bill Gates ke Indonesia (9 Mei). Mungkin akan ada pemaknaan lain, tapi minimal berdasarkan referensi ini, banyak hal menarik yang bisa ditelaah.
Mulai dari kedatangan Bill Gates, orang nomor satu di microsoft ini datang ke indonesia, yang selain berdialog dengan SBY, juga menjanjikan bantuan pendidikan IT bagi Indonesia. Salah satu orang terkaya di dunia versi majalah forbes yang lahir di Seattle ini sangat fenomenal, karena sudah menjadi kaya dan jenius di usia yang sangat muda dan tentunya fakta nyata bahwa jaringan microsoft ada di seluruh penjuru dunia, dengan kondisi yang antiteori, dimana justru dia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya di Harvard. Terlepas dari faktor keberuntungan dan lainnya, tapi kondisi yang berlawanan ini seolah dan mestinya menajdi bahan introspeksi untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Pendidikan yang kapitalis. Mungkin itu kata-kata pendek yang bisa untuk menggambarkan dunia pendidikan di Indonesia. Mulai dari pendidikan dasar, menengah, sampai atas/ tinggi, sepertinnya semua berlomba untuk terhubung dengan kapital, dan justru mengabaikan dan meminggirkan arti dan esensi pendidikan itu sendiri. Mulai dari kelas jauh, kelas ekstensi-eksekutif, Badan Hukum Milik Negara, SPMB, yang semuanya membuat mahasiswa pintar tapi kurang mampu secara ekonomi di Universitas negeri semacam UI dan UGM harus demo, karena mereka ’dipaksa’ untuk ’membayar pendidikan’ yang besarnya minimal 7 juta. Itu belum seberapa, jika dibandingkan dengan issue tarikan SPMB lewat jalur khusus, dimana para calon mahasiswa yang ’belum tentu mampu secara intelektual’ bisa masuk ke universitas negeri ternama lewat jalur khusus, dengan sumbangan minimal 40 juta. Untuk kasus Kota Malang, juga terdapat issue bahwa untuk bisa masuk TK atau SD terpandang, selain dihadapkan dengan berbagai macam tes, oarang tua calon siswa juga harus membayar uang sumbangan yang besarnya hingga 6 juta. Sebuah fakta yang mestinya buat orang normal bisa membuat geleng-geleng kepala. Carut-marut ini semakin diperparah dengan berbagai issue yang sangat tidak pada tempatnya, seperti masalah Ujian Nasional yang justru semakin tidak jelas, atau nasib guru tidak tetap dan guru bantu yang juga tidak pernah jelas.
Reformasi 1998 dalam salah satu tuntutannya yang masih konsisten diserukan sampai sekarang adalah adanya pendidikan murah lewat mekanisme besaran prosentase 20 % anggaran pendidikan di APBN. Sepertinya tuntutan tersebut sudah di ’salah pakaikan’ atau missuse oleh pemerintah, dimana dengan mekanisme yang susah dimengerti, ternyata pada kenyataannya justru beban biaya pendidikan sekarang jauh lebih berat dipangguldan dialihkan kepada masyarakat, yang justru kemampuan ekonominya sebagian besar justru semakin menurun. Hal inipun diperparah dengan berbagai janji kampanye pendidikan gratis saat pilkada, yang kalau dilihat lagi hanya segelintir kasus yang benar-benar terrealisasi. Kembali lagi, masyarakat hanya bisa menerima harapan kosong.
Pendidikan pada hakekatnya adalah menciptakan manusia tetap sebagai kodratnya manusia, tetapi dengan kualitas, kemampuan, ketrampilan, wawasan berpikir dan sederet hal positif lainnya yang menyebabkan dia mampu berdikari dalam menghadapi hidup dan kehidupannya. Dalam konsep pedagoginya, Paulo Freire menyebutkan pendidikan yang revolusioner, dimana mestinya faktor utama dari pendidikan ya proses pendidikan itu sendiri. Biaya atau kapital hanyalah alat bantu saja, bukan esensi utama. Pada saat kapital menjadi pertimbangan utama, maka kita akan bisa bayangkan seperti apa pendidikan Indonesia saat ini dan mendatang, dan kita juga bisa bayangkan seperti apakah manusia-manusia yang tercipta dari sistem pendidikan yang seperti ini, dan jangan sampai pula kita dan mungkin juga Paulo Freire hanya bisa geleng-geleng melihat situasi pendidikan Indonesia yang semakin tidak jelas.