Endratno Budi Santosa
Pengajar Metode Analisis Perencanaan di T. Planologi ITN Malang
Perumahan Bumi Banjararum Asri F-13, Singosari, Kab. Malang
0341-457652
Kota Malang yang sebenarnya tidak memiliki visi kota perdagangan, ternyata pada kenyataannya belakangan ini mengalamai ’booming’ fasilitas perdagangan, dalam berbagai skala. Mulai dari munculnya MATOS (Malang Town Square), yang disusul dengan MOG (Malang Olimpic Garden), dan tentu saja maraknya berbagai macam rumah toko (ruko), serta perdagangan mini market ritel-afiliasi semacam alfamart dan indomart. Terlepas dari kontradiksi serta perdebatan mengenai perlu tidaknya kondisi ini, serta dampak yang ditimbulkannya, sebenarnya ada 1 pertanyaan mendasar, yaitu sebenarnya dari berbagai macam tipe/ jenis fasilitas perdangan yang ada tersebut, seperti apakah fasilitas perdagangan yang paling diinginkan oleh konsumen di Kota Malang?.
Untuk bisa menjawab hal tersebut, tentunya ada berbagai cara atau metode yang bisa dipakai. Begitu juga mungkin ada berbagai versi mengenai faktor pertimbangan yang bisa dijadikan sebagai variabel penentu. Salah satu yang mungkin bisa dipakai adalah metode analisa AHP-Analytical Hierarchy Process, dengan 5 alternatif variabel penentu berupa variabel keamanan, kelengkapan barang, fasilitas penunjang, jarak dari rumah konsumen, serta variabel prestise.
Analisis AHP merupakan metode yang digunakan untuk menentukan prioritas dari berbagai pilihan yang ada, yang bisa dipergunakan dalam berbagai kasus yang merujuk pada pilihan strategis-pengambilan keputusan. Dalam kasus ini, AHP digunakan untuk menentukan sebenarnya variabel apa yang sebenarnya dijadikan referensi oleh konsumen sebagai faktor penentu untuk mereka memilih lokasi berbelanja. Dalam sistem kerjanya, AHP menggunakan mekanisme perhitungan berupa hitungan Eigen Vektor (EV), Vektor Prioritas (VP), serta Indeks Konsistensi (IK). VP dipergunakan untuk menentukan variabel mana yang paling diperhitungkan konsumen, dalam hal ini diwakili oleh narasumber, sementara IK merupakan indikator dari seberapa konsisten pendapat dari narasumber tersebut, dimana batas yang ditolerir adalah di bawah nilai 0,1.
Dengan menggunakan jumlah narasumber sejumlah 44 orang, yang berasal dari berbagai fasilitas perdagangan yang ada di Kota Malang, seperti Mall Araya, Dieng Plaza, Hero, Matos, Mitra I-II, Pasar Besar, Pasar Dinoyo, Sardo dan Sarinah, maka didapatkan hasil yang cukup mencengangkan. Bagaimana tidak, berdasarkan nilai VP perhitungan dari 44 Narasumber tersebut menunjukkan bahwa 4 variabel, yaitu keamanan, kelengkapan barang, prestise dan variabel jarak kedudukannya hampir seimbang, yaitu antara 22-27 %, walaupun posisi variabel prestise dan kelengkapan barang sedikit lebih tinggi (27 %). Adapun rentang nilai VP yang memilih keduanya ada pada selang 0,24-0,62. Sedangkan variabel sarana penunjang perdagangan menurut narasumber dipandang tidak penting/ tidak prioritas. Berdasarkan tinjauan kekonsistensian narasumber, maka sebenarnya memang kurang, karena hanya 17 % dari narasumber tersebut yang dianggap konsisten, karena berdasarkan perhitungan, nilai IK nya ada di bawah nilai 0,1, yaitu ada pada selang 0,01-0,0975.
Beradasarkan berbagai hasil kajian di atas, maka bisa disimpulkan bahwa karakter konsumen di Kota Malang sebenarnya sangat heterogen, yang artinya untuk pengusaha perdagangan, harus benar-benar cermat dalam mensiasatinya. Bagi pemerintah, paling tidak hal ini bisa dijadikan sebgai pertimbangan ataupun evaluasi terhadap upaya pengembangan fasilitas perdagangan Kota Malang di masa mendatang.